NIDC -- Seusai bertandang ke Rumata Art Space, Mahasiswa Nobel Indonesia kembali melanjutkan lawatan ke Samata Green House (SGH), Kabupaten Gowa. Para mahasiswa berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana bisnis yang berawal dari sebuah keresahan ini mampu bertumbuh pesat.
Disana mereka bertemu dengan Nur Al Fauzan, Founder Samata Green House. Dalam kesempatan tersebut, Fauzan bilang bahwa bertani itu tak melulu identik dengan berlumpur dan dilakukan secara manual. "Di Samata Green House (SGH) kami membuktikan bahwa bertani bisa lebih modern melalui urban farm dengan pendekatan teknologi, kata Fauzan di Jl.Karaeng Makkawari, Samata, Sungguminasa, Gowa.
Ia melanjutkan, SGH berhasil mengimplementasikan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) dan Internet of Things (IoT) pada perkebunan hidroponik mereka.
Saat ini, SGH mengandalkan metode Nutrient Film Technique (NFT) yang dipadukan dengan teknologi canggih berupa AIoT Smart Eco bernama "SKYPIAN". Sistem pintar ini berfungsi untuk mengoptimalkan perawatan tanaman secara otomatis dan presisi. Teknologi ini, lanjut Fauzan mengontrol seluruh ekosistem kebun, mulai dari sirkulasi air, pemberian nutrisi tanaman, hingga pemantauan suhu secara real-time melalui perangkat digital.
"Lewat bantuan AIoT 'SKYPIAN' ini, kami bisa memotong rantai kerja manual yang tidak efektif. Keputusan pemberian nutrisi atau penyesuaian suhu kebun semuanya berbasis data akurat dari sistem pintar, bukan sekadar tebakan. Ini membuat hasil panen hidroponik kami jauh lebih stabil dan berkualitas tinggi," tukasnya.