Dosen Nobel Indonesia kini dituntut untuk segera membuat buku. Hal tersebut ditekan oleh Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia, Dr. Ir. H. Badaruddin, S.T., M.M., IPU dalam Workshop Penulisan Buku yang berlangsung pada Rabu (5/7) kemarin.
“Menulis buku bagian penting dari seorang Dosen. Buku adalah legacy yang bisa kita tinggalkan sebagai Dosen, yang menjadi pembekas penyata bahwa kita adalah Dosen, karena tidak ada karya nyata sebagai Dosen kalau bukan buku,” kata Badar.
Mantan Ketua Yayasan Pendidikan Nobel Makassar itu melanjutkan, mungkin Dosen sudah memiliki jurnal dengan jumlah yang banyak. Namun, beda halnya dengan jika sudah memiliki buku. Ia beralasan bahwa buku merupakan karya otentik.
“Buku itu karya otentik sesungguhnya dari seorang dosen, kalau jurnal tidak seotentik buku, oleh karena itu, kalau kita mau tunjukkan otetintifikasi kita sebagai seorang dosen, maka punyalah buku. itu kenapa penting sekali bagi seorang Dosen,” terangnya.
“Buku itu penting karena ada faktor pragmatisnya, kita ini mugkin tidak sama dengan Dosen luar negeri, kenyataannya sekarang mengumpulkan cum butuh model besar, nulis jurnal sekarang kalau tidak masuk nggak tau kapan terbitnya. Tapi kalau buku, kita punya karya tidak perlu nunggu lama disetujui, yang penting sudah punya NSBN,” tutupnya.
Sementara, salah satu pemateri yakni Rizal Pauzi menyatakan dalam menulis buku, poin pentingnya ialah penulis harus konsisten. Akademisi dan penulis buku itu menambahkan, dosen kerap terkendala dalam hal prolog, sebab dalam membuat pengantar mereka biasanya mencari pengantar dari para pakar atau sosok yang berpengaruh dalam keilmuannya.
” Karena ada beberapa teman-teman yang kadang mau nulis dari prof. ini, prolognya jadinya bukunya tidak terbit karena tidak ada prolog (pembuka),” katanya.
“Kalau soal buku itu sebenarnya dari banyak narasi yang kita diskusikan konsistensi adalah yang utama, banyak diantara kita, termasuk dosen senior kalau cerita banyak yang bisa kita cerita, tapi kalau sudah didepan laptop kita tidk punya nyali, kunci menulis buku konsistensi. Terakhir, yang penting intelektual dan akademisi tidak dilihat dari seberapa banyak mata kuliah yang kita ajar, tapi seberapa banyak karya kita,” tandasnya
Diketahui, dalam workshop penulisan buku yang diselenggarakan oleh Nobel Press dan Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M), dua pemateri lain yang dihadirkan, diantaranya Fajlurrahman Jurdi (Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin) dan Supratman Yusbi Yusuf (Direktur Penerbit Subaltern).