NIDC -- Mahasiswa program studi Teknik Industri Nobel Indonesia kembali mendapatkan edukasi perihal Green Supply Chain Management (GSCM) dalam Kuliah Praktisi, Rabu (22/4). Sesi ini menghadirkan Fitri Cindy Katili, S.T., M.T. selaku Procurement Assistant Manager Kalla Land. Dalam penjelasannya, Fitri memaparkan bahwa penerapan Green Supply Chain Management (GSCM) di industri manufaktur kini menjadi langkah mendesak untuk menekan tingginya emisi gas rumah kaca dari sektor industri dan transportasi.
"Konsep GSCM berfokus pada pengelolaan rantai pasok yang tidak hanya mengejar efisiensi operasional dan keuntungan ekonomi, tetapi juga secara aktif meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial di setiap tahapan, mulai dari pengadaan bahan baku hingga distribusi produk ke konsumen," ujarnya di Nobel Indonesia Institute, Jl. Sultan Alauddin.
Dalam praktiknya, transisi menuju rantai pasok hijau ini menghadapi tantangan besar pada empat area utama. Kata dia, tantangan tersebut meliputi tingginya harga material ramah lingkungan (Green Procurement), besarnya biaya investasi teknologi dan penanganan limbah produksi (Green Manufacturing), tingginya emisi serta terbatasnya infrastruktur pengiriman (Logistics & Distribution), hingga sulitnya mengumpulkan kembali produk bekas dari konsumen akibat tingginya biaya logistik balik dan rendahnya kesadaran masyarakat (Reverse Logistics).
"Sebagai solusi atas tantangan tersebut, industri didorong untuk beralih dari sistem linier ke Ekonomi Sirkular (Circular Economy) dengan cara mendesain produk yang minim limbah, menjaga material agar dapat digunakan berulang kali, dan memperpanjang usia pakai produk. Keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip tata kelola ESG (Environmental, Social, & Governance) untuk membangun ekosistem industri masa depan yang tidak hanya efisien, tetapi juga tangguh dan berkelanjutan," tutupnya.