PINRANG, NIDC — Menjawab tantangan klasik sulitnya pemasaran saat hasil panen melimpah, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ITB Nobel Indonesia Posko Desa Waetuoe dan Desa Amasangang menggelar seminar kewirausahaan bagi pelaku UMKM di Balai Desa Waetuoe, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang.
Kegiatan bertajuk “Kreatif Mengelola, Cerdas Memasarkan” ini dihadiri oleh kepala desa, aparat desa, serta puluhan warga dan pelaku UMKM dari kedua desa. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Nobel Indonesia, Dr. Muhammad Idris, S.E., M.Si., menegaskan bahwa akar masalah ekonomi di desa kerap bersumber pada ketergantungan warga dalam menjual bahan mentah.
"Apa yang kita miliki belum tentu bernilai tinggi jika hanya dijual apa adanya. Nilai akan meningkat ketika kita mampu mengelolanya dengan kreatif dan memasarkannya dengan cerdas," katanya, Rabu (2/9).
Ia menambahkan, potensi perikanan seperti ikan, udang, dan hasil tambak lainnya memiliki margin keuntungan jauh lebih besar jika disentuh melalui pengolahan pascapanen, pemilahan mutu (grading), hingga kemasan yang higienis.
Dari aspek lainnya, Wakil Dekan I FEB Nobel Indonesia, Dr. Yuswari Nur, S.E., M.Si., menyoroti pentingnya membaca tren pasar agar produk lokal tidak tertinggal. Menurutnya, inovasi usaha tidak selalu menuntut warga menciptakan jenis produk baru yang rumit. "Membangun usaha itu tidak harus selalu membuat produk baru dari nol. Potensi yang sudah ada bisa kita tingkatkan nilainya lewat perbaikan kualitas, variasi rasa, pelayanan, hingga cara pengemasan yang sesuai dengan selera pasar saat ini," terangnya.
Sementara itu, Dosen Nobel Indonesia, Dr. Nurlaela, S.E., M.M., menekankan pentingnya strategi distribusi agar masyarakat tidak terjebak pada permainan harga tengkulak ketika pasokan barang sedang melimpah di musim panen. ""Ketika panen raya tiba dan pasar lokal melimpah, masalah utamanya adalah saluran pemasaran yang terbatas. Warga harus cerdas melihat potensi pasar baru di luar wilayah dan tidak bergantung hanya pada satu pembeli atau satu jalur penjualan saja," ucapnya.
Kolaborasi mahasiswa KKN di dua desa ini diharapkan menjadi pemicu terbentuknya kerja sama ekonomi antar-warga, sehingga komoditas unggulan asal Waetuoe dan Amasangang memiliki daya saing lebih tinggi di pasar yang lebih luas.