NIDC -- Salah satu pemateri yakni Miftah M. Rahman, membedah tuntas urgensi penguasaan psikologi audiens bagi para mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lingkup Kota Makassar. Dalam seminar yang yang diadakan oleh Nobel Entrepreneurship Center (NEC) dengan tajuk “Strategi Komunikasi untuk Pemasaran Digital”, Miftah menekankan bahwa di tengah banjir informasi digital, kemampuan menarik perhatian dalam hitungan detik adalah kompetensi wajib.
"Tantangan terbesar kita saat ini adalah bagaimana membuat sebuah konten itu menarik sehingga membuat penonton stop scrolling. Di sinilah kreativitas kita diuji untuk merebut perhatian audiens yang sangat singkat," ujar Miftah di Nobel Convention Center Jl. Sultan Alauddin, Makassar, belum lama ini.
Ia menjelaskan bahwa visual merupakan pintu masuk utama, namun sering kali diabaikan sisi psikologisnya. Menurutnya, desain bukan sekadar soal keindahan, melainkan tentang ketepatan sasaran melalui pemilihan warna yang memiliki makna tersendiri.
"Desain ini di dalam strategi sebuah kreator kita harus mempelajari namanya color psychology. Jadi untuk membuat orang tetap tinggal di konten kita, pertama-tama kita harus tentukan targetnya. Jika target audiens kita anak-anak, kita harus pelajari psikologi mereka sukanya warna apa, karena setiap warna punya arti, seperti merah yang punya makna tertentu," jelasnya.
Miftah kemudian memberikan contoh konkret bagi pelaku UMKM yang bergerak di sektor lokal agar mampu menyesuaikan identitas visual mereka dengan karakter konsumen. "Kuncinya pelajari dulu target audiensnya. Misalnya usaha di bidang eceng gondok dengan target kalangan pengusaha atau petani, berarti permainan warnanya harus di sekitar hijau atau biru agar relevan dengan karakter mereka," tambahnya.
Selain visual, aspek storytelling menjadi pilar kedua yang dibahas secara mendalam. Miftah mengungkapkan bahwa manusia secara alami memiliki penggerak emosional yang bisa dimanfaatkan dalam pemasaran. "Untuk membuat storytelling itu menarik, kita harus paham bahwa manusia memiliki delapan insting dasar, mulai dari kesehatan, kehidupan setelah mati, hingga seksualitas. Untuk membuat cerita yang lengkap dan mengikat, pelajari delapan insting dasar ini serta siapa target audiens kita," tegas Miftah di hadapan peserta.
Sebagai elemen teknis yang paling krusial, Miftah memperkenalkan konsep "Super Hook". Teknik ini disebutnya sebagai cara paling efektif untuk memancing pemikiran kritis audiens sejak detik pertama mereka melihat konten.
"Yang paling penting adalah membuat hook atau judul semenarik mungkin. Ada yang namanya super hook, di mana kita membalikkan logika. Contohnya, alih-alih judul biasa, kita buat menjadi 'Pemasaran Digital Tanpa Strategi? Bisa Berhasil?'. Ini akan memancing orang berpikir kritis dan akhirnya berhenti menggulir layar karena merasa terpancing oleh permainan kata-kata kita," urainya.
Menutup rangkaian materi, Miftah berpesan kepada mahasiswa dan pelaku UMKM bahwa teknis yang hebat tidak akan berarti tanpa adanya ritme kerja yang berkelanjutan di media sosial. "Ketiga yang tidak kalah penting adalah bagaimana konten itu konsisten. Strategi komunikasi yang hebat harus dibarengi dengan keberlanjutan agar pesan kita benar-benar tertanam di benak audiens," tutupnya.