NIDC -- Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia, Dr. Ir. H. Badaruddin, S.T., M.M., IPU., ASEAN Eng., menginstruksikan seluruh program studi (prodi) di kampusnya untuk mengonversi aktivitas luar kampus mahasiswa menjadi Satuan Kredit Semester (SKS).
Langkah ini diambil sebagai solusi atas lambatnya kurikulum pendidikan tinggi dalam mengejar pesatnya kemajuan di dunia industri.
Kebijakan tersebut ditegaskan di sela-sela penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara ITB Nobel Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Sulawesi Selatan yang dihadiri oleh Wakil Ketua IAI Sulsel, Dr. Muhammad Ridwan Arief, S.E., M.Fin., Ak., CA. pada Jumat (22/5).
Dalam arahannya, Badaruddin secara terbuka mengakui adanya jarak (gap) yang lebar antara materi perkuliahan konvensional dengan realitas perkembangan industri saat ini.
"Kita harus jujur mengakui bahwa kurikulum pendidikan tinggi tidak bisa mengejar kemajuan industri. Jika perguruan tinggi tidak mengikatkan diri dengan lingkungan industri atau organisasi profesi, maka kita akan tertinggal. Maka dari itu, di ITB Nobel ini saya mendorong seluruh mahasiswa untuk lebih banyak beraktivitas di luar ketimbang di dalam kampus," tegasnya di Nobel Convention Center, Jl. Sultan Alauddin.
Agar mahasiswa dapat fokus menyerap ilmu praktis di lapangan tanpa terbebani dengan urusan administrasi akademis, pihak rektorat meminta prodi segera merumuskan sistem konversi nilai.
"Saya meminta kepada seluruh prodi agar aktivitas mahasiswa di luar itu dikonversi menjadi SKS di dalam kampus. Tujuannya jelas, supaya mereka tidak terbebani harus kuliah formal dan magang atau berkegiatan di waktu yang bersamaan," tambahnya.
Melalui kerja sama dengan IAI Wilayah Sulsel, ITB Nobel Indonesia juga membidik penguatan kompetensi spesifik bagi mahasiswa di setiap lini prodi. Mantan Ketua Yayasan Pendidikan Nobel Makassar itu menargetkan setiap lulusan memiliki setidaknya satu keahlian unggulan yang siap pakai di dunia kerja.
Ia mencontohkan, mahasiswa prodi Manajemen dan Akuntansi tidak hanya dibekali teori, melainkan harus memiliki kompetensi nyata dalam berbisnis yang diperkuat oleh standar profesi dari IAI.
"Hampir semua prodi, baik itu Manajemen maupun Akuntansi, mahasiswanya harus memiliki kompetensi untuk berbisnis yang didorong oleh latar belakang keilmuan mereka. Setidaknya, mereka membawa keunggulan sendiri ketika lulus. Dengan kehadiran IAI, keunggulan itu akan bertambah," tukasnya.